Archive for the ‘filsafat’ Tag

Bersatu dalam Dua

cerita sebelumnya

Saat itu, Nina duduk sendiri dengan laptop di depannya. Dia duduk di bawah rindangnya pohon. Sambil menikmati koneksi Wi-Fi di daerah itu, dalam otaknya terdapat secuil pertanyaan yang melayang. “Dua hal bersatu itu sangat mungkin, namun bagaimana bila sesuatu yang satu bersatu dalam dua. Mungkinkah itu bisa terjadi?”

Sambil menikmati air mineral yang dibelinya di dekat tempat itu, ia masih memikirkan hal itu. Hampir saja otaknya membludak. Otaknya kini panas dan bertambah panas. Walau itu pertanyaan yang remeh dan tak seharusnya dipikirkan. Untuk apa dipikirkan? Namun, entah mengapa kata-kata itu tiba-tiba muncul.

Nina mulai meraba otaknya. Ia bayangkan suatu hal yang keadaannya masih diragukan. Anggap saja hal itu adalah ‘anu’. Anu itu sesuatu yang satu. Sesuatu yang kemungkinan tak terpisahkan dan tak dapat dibelah. Hanyalah sebuah yang satu, tak bisa menjadi dua, tiga, atau lebih dari itu. Mungkinkah ‘anu’ itu bisa bersatu dalam dua? Sedangkan kata ‘bersatu’ itu sudah menunjukkan suatu kesatuan. Namun? Kata ‘bersatu’ itu kata yang mengindikasikan sesuatu yang tidak satu kemudian disatukan ataupun menyatu dengan sendirinya. Dan pada hakikatnya sesuatu yang ‘bersatu’ asalnya bukan satu.

Nina mulai mendapatkan petunjuk. Jika benar ‘bersatu’ itu menjadi satu, maka mungkinlah sesuatu yang tidak satu itu bersatu dalam dua. Analoginya, jika kita mempunyai sepuluh anu, maka ‘bersatu dalam dua’ itu menjadikan setiap lima dari sepuluh anu bersatu hingga menjadi dua bagian. Dan inilah yang dikatakan ‘bersatu dalam dua’. Namun, apakah ini yang dimaksud dengan ‘bersatu dalam dua’?

Otak Nina semakin panas. Jika seperti itu, maka mengapa ‘bersatu dalam dua’ dan mengapa tidak ‘bersatu dalam satu’? Bukankah jika bersatu itu pasti menjadi satu? Uh … Apa yang dimaksud oleh ‘si Boy’?(lihat cerita sebelumnya, Kaba Nina Kaba Sahaya Cinta) Mengapa dia mengatakan padaku, ‘Mungkinkah kita bersatu dalam dua?’, apa maksudnya?

Kemudian Nina search di Internet, mencari-cari, mungkin saja ada. Namun, lama sekali ia cari, tak juga menemukannya. ‘Boy, kau terlalu aneh bagiku’. Nina lelah dengan maksudnya. Dia memutuskan untuk menanyakannya pada si Boy, jika bertemu dengannya.

***

Nina terdiam dalam senyap malam. Tak sepatahh kata pun keluar dari lidahnya kecuali kata ‘Boy, boy, boy’ dan selalu seperti itu hingga dia tertidur. Malam itu menyelimuti Nina dengan mimpinya.

“Hai, Nina.”
“Boy?”
“Ya, ini aku, Boy, Nina.”
“Kau? Apa benar kau?”
“Ya, ini aku.”
“Hey, Boy. Mengapa tangan kirimu terbalut perban?”
“Um … gapapa kug, cuma kecelakaan kecil saja.”
“Kecelakaan kecil?”
“Ya … Aku tak bisa mengendalikan tanganku, aku memaksanya melakukan sesuatu yang tak ingin kulakukan.”
“Apa itu?”
“Aku memaksanya bersatu dalam dua.”
“Bersatu dalam dua?”

Nina terbangun. Mimpi itu lagi! Mengapa Boy selalu datang dalam mimpiku dan seakan dia berkomunikasi denganku lewat mimpiku. Apa maunya? Ah … uh, sadarlah Nina! Apa yang kuucap, bukankah aku saja yang mengalami ini. Sedangkan Boy, tak mungkin ia mimpi seperti ini.

***

“Hey, Boy!”
Boy menoleh ke arah suara itu berasal.
“Ya … Nina, ada apa?”
“Um … a-a-anu …”
“Anu apa, Nin?”
“Um … nanti abis kuliah … kamu ada waktu ga?”
“Aku? Waktu? Ya … nanti jam satu siang aku kosong.”
“Makasi ya, Boy, aku tunggu di tempat biasanya.”
“Ya, aku ‘kan datang.”

— jam satu siang

Boy naik ke lantai empat, tempat biasa mereka ketemu. Boy sudah melihat Nina duduk menantinya di ufuk sana.

“Nina?”
“Ya.”
“Maaf, lama menungguku ya?”
“Ga kug, baru beberapa menit aku sampai ke sini.”
“Um … gitu ya”, “Kalau boleh tahu, apa yang bisa kubantu untuk Nina?”
“Um … a-a-anu … akhir-akhir ini aku dibuat lelah dengan kata-kata ‘bersatu dalam dua’ yang sering muncul dalam otakku.”
“Bersatu dalam dua?”
“Ya, tiga kata itu.”
“Ada apa dengan kata itu?”, “Bukan kata-kata yang aneh.”
“Ya, sih, tapi … apa sih maksud dari kata itu?”
“Maksud?” (Boy tiba-tiba tersenyum)
“Um …” (Nina terkejut dengan senyuman Boy)
“Kalimat ‘bersatu dalam dua’ itu seperti keadaan kita ini.”
“Keadaan kita?” (Nina mengerutkan dahinya)
“Ya, keadaan kita.”
“Maksudnya?”
“Aku tahu … kau sebenarnya … ” (Boy menebak)
“Um … ” (tiba-tiba Nina tersipu malu)
“Apa aku harus melanjutkan kata-kataku?”
“Ya … lanjutkan.” (Nina mengangguk)
“Apa yang kau rasakan dan yang kurasakan, tak jauh beda.”
“Tak jauh beda?”, “Apa kau juga … ?” (Nina menatap curiga)
“Yep, begitulah.” (suara lirih itu keluar dari lisan Boy)

Keduanya diam. Suasana tiba-tiba senyap. Keduanya hanya saling memandang. Sedangkan panasnya matahari saat itu seakan menambah panas keadaan saja.

“Jika kau merasakan hal itu, mengapa kau tak melakukan seharusnya yang kau lakukan?” (Nina mendesaknya)
“A-a-aku … aku masih memikirkannya matang-matang.” (Boy mencoba mengelak)
“Mengapa kau tak melakukannya sekarang?”, “Mumpung aku di sini dan masih di sini.” (Nina sedikit memberikan harapan dan sekaligus tekanan)
“Baiklah …” (Mata Boy mulai yakin)
“Ayo katakan.” (Nina menghadap wajah Boy dan menunggu)
“Um … a-a-aku … aku su-su-su-suka … ka-ka-ka-kamu, Nina.” (Boy gugup, ini amat tak terencana)
“Apa? Apa yang kau katakan? Aku tak mendengarnya?” (Nina mempermainkan Boy yang ragu-ragu dalam pengucapannya)
“A-a-aku su-su-suka ka-kamu, Nina … Aku suka kamu, Nina.”
“Suka?” (Nina dengan pandangan remehnya) “Hanya suka?”
“Ya, suka.”
“Lantas … apa yang kau mau dariku jika kau suka padaku?”
“Karena itu … aku masih bingung mau apa.”
“Bingung?” (dengan nada kecewa, Nina langsung meninggalkan Boy sendiri di sana)

Gila. Tragedi apa ini. Ga keren sekali. Boy tersadar … ia langsung mengejar Nina. Ia dapatkan tangan kiri Nina. Nina menoleh ke arahnya, dengan wajah sedikit marah. Boy dengan wajah bersalahnya berkata, “Maafkan aku, Nina.”

“Baiklah, aku akan memaafkan kamu jika kamu mengulangi apa yang kau katakan tadi di atas sana.”
“Baiklah, aku akan mengulanginya”, “Nina, aku suka padamu, aku ci-ci-cinta padamu”, “Aku ingin kau juga mencintaiku.” (pinta Boy)
“Maafkan aku, Boy, aku ga bisa menerima cintamu.”
“Mengapa? Apa yang menghalangimu untuk mencintaiku? Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?”
“Yang menghalangiku adalah … kau … tadi di atas … hanya mengatakan ‘aku suka padamu’, ga ada kalimat ‘aku cinta’.” (Nina langsung pergi dari hadapan Boy)
“Huh?” (Boy merasa aneh dengan Nina)

bersambung ke bagian 3

download .pdf -nya, klik di sini

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.