Archive for the ‘eksistensi’ Tag
Dual Eksistensi
Tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi, Boy hanya duduk di dekat pohon rindang sambil menikmati koneksi Wi-Fi. Tentu saja seperti biasanya — update status di Plurk-nya yang otomatis terintegrasi dengan Facebook. Searah pandangnya, ia melihat Nina yang sedang lewat. Menyapa atau tidak, mungkin itu yang ada di benak Boy. Hampir saja Boy menyapanya, Nina seraya menoleh ke arahnya dengan senyuman seperti biasanya. Boy semakin bingung dengan perilaku Nina. Apa maunya?
Seusai hal itu terjadi, tiba-tiba datang salah satu teman Boy di hadapannya. Lalu ia berkata, “Boy, tahu ga?”. “Apa?”, jawab Boy. “Cewek yang biasanya sama kamu itu … “, kata temannya. “Ya … kenapa”, Boy menanggapi dengan muka bosan. “Dia sakit”, teman itu menjelaskan. “Tahu dari mana kamu kalo dia sakit?”, tanya Boy. “Aku ‘kan tetangganya”, temannya menegaskan. “Ya kah?”, Boy terkejut.
Dalam benak Boy masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya tadi. Bagaimana tidak, baru saja ia melihatnya lewat di depannyaa. “Apa kau yakin dia sakit? Apa kau tak mengada-ada?”, Boy memverifikasi. “Sumpah, Boy”, temannya menjawab dengan muka meyakinkan. “Kalo kamu masih ga yakin, ayo ikut aku jenguk dia”, teman itu mengajak. “Oke”, Boy menyetujui.
Mereka berdua pun pergi ke rumah Nina untuk menjenguknya …
Sesampainya di sana …
“Boy?”, Nina terkejut ketika Boy mengunjunginya. “Ya, ini aku Boy, Nin”, Boy meyakinkan. “Tahu dari mana rumahku?”, Nina bertanya pada Boy. “Um … ini temanku yang juga tetanggamu sebelah yang mengantarkanku ke sini, tapi sayangnya ia ga ikut masuk, katanya sih dia ada urusan”, Boy menjelaskan. “Um … begitu ya”, Nina mulai yakin. “Kamu sakit apa, Nin?”, Boy perhatian. “Um … cuma lagi ga enak badan aja, rasanya agak pusing kepalaku, lemas semua tubuhku”, Nina mendeskripsikan. “Um … udah minum obat?”, Boy bertanya dengan sedikit menatap mata Nina yang lemas. “Uda kug”, Nina menjawab, “Makasih ya uda jenguk aku, Boy.” “Um … sama-sama, tapi aku ga bisa bawa apa-apa, Nin”, Boy meminta maaf,”Tadi aku terburu-buru.” “Gapapa kug, Boy”, jawab Nina, “Kamu jenguk aja, aku uda senang”.
Dalam otak Boy, mulai banyak pertanyaan. Bukankah tadi ia melihat Nina sedang lewat di depannya. Dan bukankah ia kemarin hempir saja menciumku. Tapi … dia sakit sejak tiga hari yang lalu. Lalu … siapa dia? Siapa sebenarnya dia? Apa dia …?
Mungkinkah ia … dual eksistensi? Oh tidak … itu ‘kan hanya mitos saja. Ataukah … dia kembar? Tapi … jika dia kembar, mana mungkin ia tahu apa yang terjadi selama ini antara aku dan Nina.
Tiba-tiba … Boy melihat Nina duduk di samping Nina yang terbaring sakit. Boy terkejut. “Siapa kau sebenarnya?” Boy bertanya pada Nina yang duduk. “Boy, kamu ngomong sama siapa?” Nina yang berbaring bertanya pada Boy. “Um … aku ngomong sama yang duduk di samping kamu, Nin”, Boy menjawab. “Siapa yang duduk di sampingku?”, Nina bertanya dengan wajah terkejut, “Apa ada orang yang duduk di sampingku selain dirimu, Boy?” “Heh … apa kau ga bisa melihat kalo ada orang yang duduk di samping kamu, Nin?” Boy menjawab juga dengan terkejut, “Berarti hanya aku yang bisa ngeliat dia?” Tak lama kemudia, Nina yang satu itu menjawab, “Aku adalah Nina yang lain, Karin dari Nina.”
Karin sebutan bagi diri kita yang lain. Karin adalah seseorang yang sejak kita lahir selalu menemani kita. Dia sangat tahu tentang detail dari apa yang kita lakukan. Karin ini dari golongan jin.
“Karin dari Nina?” Boy terkejut. “Akulah yang hendak menciummu itu”, Karin Nina itu menjabarkan. “Jadi kau?” Boy bertanya. “Ya … yang tadi lewat di depan mu itu pun aku”, Karin itu menjelaskan, “Inilah yang dinamakan dual eksistensi … namun, tak semua orang bisa melihatnya.”
Kemudian … tiba-tiba Karin dari Nina itu memperdaya Boy. Tiba-tiba Boy tak sadarkan diri, tergelapar di dekat Nina yang sakit. “Boy, kau kenapa?” Nina terkejut. Karin itu membawa Boy di dunia yang tak pernah di temui olehnya. Boy benar-benar melihat sebuah tempat yang sangat indah, tak pernah ia jumpai sebelumnya kecuali jika hanya dalam angannya saja. Karin itu membawanya ke tempat yang mirip dengan sungai. Boy tak bisa bicara, seperti mulutnya dibungkam, diam seribu bahasa.
Boy terkejut ketika ia melihat Karin dari Nina itu menanggalkan seluruh apa yang ada dalam tubuhnya. Dan hanya terlihat perhiasan yang sebelumnya tak pernah dilihat oleh Boy. Tubuh Boy kaku bagai digips. Matanya pun tak bisa melihat kecuali pada apa yang ada di depannya. Ah … parah … payah … Apa-apaan ini. Apa maunya?!
Karin itu tersenyum pada Boy dan berkata, “Boy, nikamatilah apa yang ada.” Boy hanya bisa diam, mulutnya bagai diselotip. Ketika itu, Boy ingin sekali menutup matanya, tapi tak bisa. Ini bagai nikmat yang menyiksa.
Karin itu bermain dengan air yang bergemericik mengalir di sungai itu. Seakan menuntjukkan gerakan-gerakan lumba-lumba yang berenang indah di samudera. Air-air mulai bertebaran di tubuhnya, menyempurnakan karunia yang tak terlupakan oleh ingatan.
Dalam tubuh Boy pun terjadi letupan-letupan kecil yang tak mungkin bisa dibendung. Meski menolak, tolakan itu terasa sia-sia oleh apa yang memang telah ditadirkan untuk dirinya. Karin itu mulai mendekat ke arah Boy yang membatu. Kemudian membisikkan kata-kata dalam telinga Boy yang akhirnya Boy dikalahkan dengan hawanya. Boy pun melakukan apa yang dikatakan oleh Karin itu. Menyatunya dua eksistensi yang berbeda membuat Boy terbuai dalam kenikmatan yang menyiksa. Diakhiri dengan kepuasan yang tersesalkan.
Boy mulai tersadarkan dari hal itu. “Boy … kau kenapa tadi?” Nina menanyakan pada Boy, sembari khawatir akan keadaan Boy. “Um … sorry, apa aku tiba-tiba tak sadarkan diri?” Boy bertanya. “Ya … aku aja sempat kaget, Boy”, Nina menjawab. Seraya Boy bercakap-cakap dengan Nina, Karin itu muncul lagi dan berkata, “Boy … terima kasih atas apa yang kau berikan padaku.” Boy merasa marah dengan apa yang ia katakan meski tak dimunculkan dalam raut wajahnya, karena ia sedang bercakap-cakap dengan Nina.
Leave a Comment