Archive for April, 2010|Monthly archive page

Purnama Tak Sempurna

13xy

“Bagaimana mungkin orang yang jatuh cinta dapat melupakan kekasihnya?
Sedangkan namanya telah terukir di hatinya.”

Reno

“Nadva,” suara lirih dari mulut Reno.

Bagian A

Reno, bocah yang cukup cerdas, buktinya saja ia menjadi juara I dalam lomba itu. Ia masuk dalam ‘LBB’ secara gratis pun karena kecerdasannya pula.

Hari pertama, hari perkenalan. Reno masuk dengan rasa agak aneh. Merasa tidak biasa dengan apa yang ada di sana. Tempat duduk yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk menulis membuatnya tidak nyaman. Biarlah saja pikirnya, nanti juga akan terbiasa. Reno seakan agak tidak percaya diri karena mungkin tak seorang pun yang ia kenal di sana.

Dilihatnya seorang bocah di sampingnya sambil menjulurkan tangannya dan berkata, “Perkenalkan aku Reno”. Bocah itu menjawab, “Aku Faiz”. Mereka berdua mulai bertukar identitas. Maklumlah baru kenal.

Sekonyong-konyong datanglah salah satu fasilitator dan mengenalkan dirinya pada kami. Noni namanya, perempuan dua puluh tahunan kira-kira umurnya, berbusana jilbab dan berkacamata. Kami memanggilnya Kak Noni, si fasilitator untuk bidang matematika. Setelah mengenalkan diri pada kami, ia mulai mengabsen kami sekaligus berkomentar tentang kami. Selain itu, ia juga berharap agar kami menjadi siswa yang berkompeten setelah mengikuti ‘LBB’ ini.

Reno pun tak tinggal diam. Ia berusaha untuk mengenal teman-temannya dari pengecekan kehadiran itu. Tak hanya itu saja, dimulailah obrolan-obrolan yang bisa merembet ke baris belakang. Dari awal memang duduk di belakang, bangku kedua dari sebelah kanan. Reno berharap agar setidaknya ia sudah mengenal satu baris dalam pertemuan kali ini. Sekolah, obyek utama yang biasanya mereka obrolkan. Kebiasaan-kebiasaan, cara mengajar guru, dan tipe-tipe guru serta trik-trik dalam menghadapinya, dan kejadian-kejadian berkesan menjadi bahan pokok obrolan.

Read more »

Sesuana Rona

johnterro, 2008

Sesuana Rona
tinggal dalam hampa
putih kelam kelana
karena hilang terlena

Sesuana Rona
menapak kasa
melambung kata
merengkuh jiwa

Sesuana Rona
kala setia
menjadi nyata
hamba pun suka

Sesuana Rona
hati pun suda
kerana maksia
dalam sepi sepa

Rumah Sakit Khusus Pecandu Internet dan Games

Program bernama “Screenagers” berangkat dari dampak negatif perkembangan teknologi

Hidayatullah.com–Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat hidup menjadi lebih mudah. Namun penggunaan teknologi tanpa kontrol, juga bisa memunculkan masalah tersendiri. Resiko yang cukup rentan dihadapi anak-anak muda, yang kehidupannya tidak bisa lepas dari teknologi, adalah internet, games, dan ponsel.

Parahnya, kebiasaan itu bisa menjadi racun jika sudah masuk dalam tahap kecanduan. Seorang anak bisa saja marah dan sangat jengkel ketika disuruh orang tuanya mematikan komputer. Juga rentang waktu yang dipakai untuk bermain game, bisa melupakan kewajiban belajar misalnya.

Berangkat dari situasi inilah sebuah rumah sakit di London kemudian meluncurkan program yang didedikasikan untuk mereka yang kecanduan teknologi. Program bernama “Screenagers” tersebut berupa terapi intensif secara individu maupun kelompok untuk anak-anak berusia 12 tahun ke atas, meski sasaran program ini sebenarnya pada mereka yang berusia antara 15-17 tahun.

“Saya sudah dihubungi oleh orangtua yang melihat anak-anak mereka akan menjadi marah ketika mereka diminta untuk mematikan komputer mereka,” ungkap pimpinan program di Rumah Sakit Capio Nightingale, Richard Graham. “Beberapa akhirnya harus memanggil polisi.”

Dia mengatakan, anak-anak bermain beberapa permainan komputer untuk melakukan kontak sosial. “Hal itu memberikan mereka rasa koneksi sehingga akhirnya bermain sepanjang waktu,” tambahnya.

“Layanan kesehatan mental harus dengan cepat beradaptasi dengan perubahan dunia yang dialami orang-orang muda, dan memahami betapa serius kehidupan mereka dapat dirugikan oleh waktu yang tidak diatur di layar atau dalam game,” kata Graham.

Dia juga mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa orang dewasa yang terlalu banyak menghabiskan waktu online, menderita secara fisik dan mental, sedangkan orang-orang muda menjadi gelisah dan sulit berkonsentrasi, dan pada akhirnya dapat menjadi tertekan. [mtg/hd/afp/www.hidayatullah.com]

Ilustrasi:Peter Steffen/dpa/Corbis



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.