Archive for February, 2010|Monthly archive page

Dual Eksistensi

Cerita sebelumnya

Tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi, Boy hanya duduk di dekat pohon rindang sambil menikmati koneksi Wi-Fi. Tentu saja seperti biasanya — update status di Plurk-nya yang otomatis terintegrasi dengan Facebook. Searah pandangnya, ia melihat Nina yang sedang lewat. Menyapa atau tidak, mungkin itu yang ada di benak Boy. Hampir saja Boy menyapanya, Nina seraya menoleh ke arahnya dengan senyuman seperti biasanya. Boy semakin bingung dengan perilaku Nina. Apa maunya?

Seusai hal itu terjadi, tiba-tiba datang salah satu teman Boy di hadapannya. Lalu ia berkata, “Boy, tahu ga?”. “Apa?”, jawab Boy. “Cewek yang biasanya sama kamu itu … “, kata temannya. “Ya … kenapa”, Boy menanggapi dengan muka bosan. “Dia sakit”, teman itu menjelaskan. “Tahu dari mana kamu kalo dia sakit?”, tanya Boy. “Aku ‘kan tetangganya”, temannya menegaskan. “Ya kah?”, Boy terkejut.

Dalam benak Boy masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya tadi. Bagaimana tidak, baru saja ia melihatnya lewat di depannyaa. “Apa kau yakin dia sakit? Apa kau tak mengada-ada?”, Boy memverifikasi. “Sumpah, Boy”, temannya menjawab dengan muka meyakinkan. “Kalo kamu masih ga yakin, ayo ikut aku jenguk dia”, teman itu mengajak. “Oke”, Boy menyetujui.

Mereka berdua pun pergi ke rumah Nina untuk menjenguknya …

Sesampainya di sana …

“Boy?”, Nina terkejut ketika Boy mengunjunginya. “Ya, ini aku Boy, Nin”, Boy meyakinkan. “Tahu dari mana rumahku?”, Nina bertanya pada Boy. “Um … ini temanku yang juga tetanggamu sebelah yang mengantarkanku ke sini, tapi sayangnya ia ga ikut masuk, katanya sih dia ada urusan”, Boy menjelaskan. “Um … begitu ya”, Nina mulai yakin. “Kamu sakit apa, Nin?”, Boy perhatian. “Um … cuma lagi ga enak badan aja, rasanya agak pusing kepalaku, lemas semua tubuhku”, Nina mendeskripsikan. “Um … udah minum obat?”, Boy bertanya dengan sedikit menatap mata Nina yang lemas. “Uda kug”, Nina menjawab, “Makasih ya uda jenguk aku, Boy.” “Um … sama-sama, tapi aku ga bisa bawa apa-apa, Nin”, Boy meminta maaf,”Tadi aku terburu-buru.” “Gapapa kug, Boy”, jawab Nina, “Kamu jenguk aja, aku uda senang”.

Dalam otak Boy, mulai banyak pertanyaan. Bukankah tadi ia melihat Nina sedang lewat di depannya. Dan bukankah ia kemarin hempir saja menciumku. Tapi … dia sakit sejak tiga hari yang lalu. Lalu … siapa dia? Siapa sebenarnya dia? Apa dia …?

Mungkinkah ia … dual eksistensi? Oh tidak … itu ‘kan hanya mitos saja. Ataukah … dia kembar? Tapi … jika dia kembar, mana mungkin ia tahu apa yang terjadi selama ini antara aku dan Nina.

Tiba-tiba … Boy melihat Nina duduk di samping Nina yang terbaring sakit. Boy terkejut. “Siapa kau sebenarnya?” Boy bertanya pada Nina yang duduk. “Boy, kamu ngomong sama siapa?” Nina yang berbaring bertanya pada Boy. “Um … aku ngomong sama yang duduk di samping kamu, Nin”, Boy menjawab. “Siapa yang duduk di sampingku?”, Nina bertanya dengan wajah terkejut, “Apa ada orang yang duduk di sampingku selain dirimu, Boy?” “Heh … apa kau ga bisa melihat kalo ada orang yang duduk di samping kamu, Nin?” Boy menjawab juga dengan terkejut, “Berarti hanya aku yang bisa ngeliat dia?” Tak lama kemudia, Nina yang satu itu menjawab, “Aku adalah Nina yang lain, Karin dari Nina.”

Karin sebutan bagi diri kita yang lain. Karin adalah seseorang yang sejak kita lahir selalu menemani kita. Dia sangat tahu tentang detail dari apa yang kita lakukan. Karin ini dari golongan jin.

“Karin dari Nina?” Boy terkejut. “Akulah yang hendak menciummu itu”, Karin Nina itu menjabarkan. “Jadi kau?” Boy bertanya. “Ya … yang tadi lewat di depan mu itu pun aku”, Karin itu menjelaskan, “Inilah yang dinamakan dual eksistensi … namun, tak semua orang bisa melihatnya.”

Kemudian … tiba-tiba Karin dari Nina itu memperdaya Boy. Tiba-tiba Boy tak sadarkan diri, tergelapar di dekat Nina yang sakit. “Boy, kau kenapa?” Nina terkejut. Karin itu membawa Boy di dunia yang tak pernah di temui olehnya. Boy benar-benar melihat sebuah tempat yang sangat indah, tak pernah ia jumpai sebelumnya kecuali jika hanya dalam angannya saja. Karin itu membawanya ke tempat yang mirip dengan sungai. Boy tak bisa bicara, seperti mulutnya dibungkam, diam seribu bahasa.

Boy terkejut ketika ia melihat Karin dari Nina itu menanggalkan seluruh apa yang ada dalam tubuhnya. Dan hanya terlihat perhiasan yang sebelumnya tak pernah dilihat oleh Boy. Tubuh Boy kaku bagai digips. Matanya pun tak bisa melihat kecuali pada apa yang ada di depannya. Ah … parah … payah … Apa-apaan ini. Apa maunya?!

Karin itu tersenyum pada Boy dan berkata, “Boy, nikamatilah apa yang ada.” Boy hanya bisa diam, mulutnya bagai diselotip. Ketika itu, Boy ingin sekali menutup matanya, tapi tak bisa. Ini bagai nikmat yang menyiksa.

Karin itu bermain dengan air yang bergemericik mengalir di sungai itu. Seakan menuntjukkan gerakan-gerakan lumba-lumba yang berenang indah di samudera. Air-air mulai bertebaran di tubuhnya, menyempurnakan karunia yang tak terlupakan oleh ingatan.

Dalam tubuh Boy pun terjadi letupan-letupan kecil yang tak mungkin bisa dibendung. Meski menolak, tolakan itu terasa sia-sia oleh apa yang memang telah ditadirkan untuk dirinya. Karin itu mulai mendekat ke arah Boy yang membatu. Kemudian membisikkan kata-kata dalam telinga Boy yang akhirnya Boy dikalahkan dengan hawanya. Boy pun melakukan apa yang dikatakan oleh Karin itu. Menyatunya dua eksistensi yang berbeda membuat Boy terbuai dalam kenikmatan yang menyiksa. Diakhiri dengan kepuasan yang tersesalkan.

Boy mulai tersadarkan dari hal itu. “Boy … kau kenapa tadi?” Nina menanyakan pada Boy, sembari khawatir akan keadaan Boy. “Um … sorry, apa aku tiba-tiba tak sadarkan diri?” Boy bertanya. “Ya … aku aja sempat kaget, Boy”, Nina menjawab. Seraya Boy bercakap-cakap dengan Nina, Karin itu muncul lagi dan berkata, “Boy … terima kasih atas apa yang kau berikan padaku.” Boy merasa marah dengan apa yang ia katakan meski tak dimunculkan dalam raut wajahnya, karena ia sedang bercakap-cakap dengan Nina.

Intikali Itu Mencintai dan Tak Perlu Dicintai

X: Hai Sobat! Aku boleh tanya ga?
Y: Tanya? Tentang apa?
X: Intikali itu apa?
Y: Intikali?
X: Ya, intikali itu apa? Banyak yang membicarakan intikali. Aku penasaran nih.
Y: Um … begitu ya. Intikali itu …
X: Ayo, apa?
Y: Kesalahan pertama yang kau lakukan adalah bertanya “apa itu intikali?”
X: Heh? Kug bisa?
Y: Intikali itu hanya dapat dirasakan, jadi mana mungkin aku bisa menjelaskannya kepadamu.
X: Ah, jahat sekali sih kamu. Ayo ta beritahu aku “intikali itu apa?”
Y: Aku ‘kan udah bilang.
X: Pasti kamu bo’ong.
Y: Intikali itu ga bisa didefinisikan oleh kata-kata.
X: Aneh.
Y: Ya memang aneh. Begitulah intikali.
(seraya, ada Z yang ikut nimbrung dalam percakapan)
Z: Intikali?
X: Z, kamu tahu ga intikali itu apa?
Z: (dengan sok tahu) inti itu ya inti, kali itu ya sungai; berarti intikali itu air.
Y: (tersenyum)
X: Y, apa benar apa yang dikatakan Z?
Y: Menurutmu?
X: Aku ga tahu.
Y: Gini aja, ga usah susah-susah, kamu brosing aja di Google.
X: (membuka Opera Mini, lalu brosing)
Y: (tersenyum)
Z: (dengan ekspresi kayak orang marah)Intikali itu tahi.
Y: (hanya tersenyum melihat ekspresi Z)
X: Mana Y, aku kug malah bingung sih pas baca di Google.
Y: Yup, ga semua orang dapat dengan mudah menikmati intikali.

***

X: Hai, Y! Ayo lah beritahu aku tentang intikali.
Y: Aku ‘kan pernah bilang, intikali itu sulit dijelaskan oleh kata-kata. Intikali itu hanya dapat dirasakan.
X: Ayo lah. (dengan sedikit merayu)
Y: Oke lah, intikali itu … mencintai tanpa mengharap dicintai.
X: Hah, kug bisa?
Y: Ya bisa aja lah.
X: Kug aneh sekali.
Y: Ya memang aneh.
X: Lalu gimana bisa kita mencintai tanpa mengharap dicintai?
Y: Ya bisa lah. Ini timbul ketika kita lebih memilih mempertahankan prinsip daripada memenuhi hasrat cinta kita.
X: Tapi … bukankah kekuatan cinta itu lebih kuat dari segalanya.
Y: Kata siapa?
X: Sebagian besar ‘kan emang kayak gitu?
Y: Sebagian besar ‘kan, berarti ga berlaku untuk semua.
X: Tapi sulit sekali kayak gitu.
Y: Yupz.
X: Tapi apa kau bisa kayak gitu? Mencintai tanpa dicintai.
Y: Ya bisa lah.
X: Apa buktinya?
Y: Aku pernah mengalaminya. Dan itulah asal dari intikali.
X: Benarkah?
Y: Yup.
X: Ayo lah ceritakan ke aku.
Y: Ini bermula ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA.
X: Kamu mencintai seorang cewek?
Y: Ya.
X: Trus … trus??
Y: Aku mencintai dan hanya mencintai.
X: Kug bisa? Kamu ga menyatakan cintamu padanya?
Y: Ya ga lah.
X: Loh kenapa?
Y: Aku punya sebuah prinsip. Tak ‘kan pernah pacaran.
X: Hah, kenapa?
Y: Ya itulah sebuah prinsip. Kalo kamu? Apa prinsipmu?
X: (berpikir)
Y: Jangan-jangan ga punya? (dengan sedikit tawa)
X: Iya ya, aku ga punya prinsip.
Y: Wah wah …
X: Tapi … kita kan boleh punya banyak prinsip.
Y: Prinsip boleh banyak tapi ga boleh berubah.
X: Kenapa?
Y: Kalo terus berubah, itu bukan prinsip namanya.
X: Iya ya. Oh, ya, terusin lagi dums critamu.
Y: Sebenarnya se aku udah bikin prinsip ini sejak kelas 2 SMP.
X: Wah, lama amat yah.
Y: Begitulah.
X: Terus-terus …
Y: Dan aku memegang prinsip itu sampai sekarang.
X: Sampai sekarang? Berarti kamu ga pernah pacaran dums?
Y: Ya begitulah.
X: Terus … gimana? Ga kawin?
Y: Ya kawin lah.
X: Katanya ga mau pacaran?
Y: Bukan berarti ga pacaran ga kawin. Bukankah ga perlu pacaran dulu jika kawin.
X: Iya se. Terus-terus, kau apa pernah mencintai gitu?
Y: Ya pernah lah. Itu sudah wajar.
X: Kenapa kamu ga pacaran kalo kamu cinta?
Y: Karena aku lebih mencintai prinsipku untuk ga pacaran.
X: Terus …. kasian banget cewek yang kamu cintai.
Y: Ya ga lah.
X: Tapi …. apa dia tahu kalo kamu suka ma dia?
Y: Mungkin.
X: Kug mungkin?
Y: Ya ‘kan aku ga pernah nanyain langsung ke cewek itu.
X: Terus … Apa kamu tahu di mana dia sekarang?
Y: Ya tahu lah.
X: Apa dia udah punya cowok?
Y: Udah.
X: Kamu tahu dari mana?
Y: Aku banyak tahu tentangnya.
X: Um begitu ya.
Y: Yupz.
X: Apa kamu ga tersiksa dengan “mencintai tanpa dicintai”?
Y: Ya tersiksa sih.
X: Kenapa ga kamu tembak aja dia?
Y: Tapi … jika aku lakukan hal yang seperti kau katakan, aku akan lebih menderita lagi.
X: Kug bisa?
Y: Aku akan kehilangan diriku.
X: Kehilangan?
Y: Ya, kehilangan. Kehilangan apa yang aku banggakan.
X: Um … (mencoba memahami) Memang sejak kapan kamu mencintai anak itu?
Y: Sejak SD.
X: Hah … Lama banget. Kug bisa seperti itu?
Y: Ya bisa lah, kamu pernah dengar sebuah syair yang “Bagaimana mungkin seorang pecinta melupakan kekasihnya, sedangkan namanya telah terukir dalam hati”
X: Berarti dia udah terukir dalam hatimu?
Y: Begitulah.

(dialog ini adalah dialog-ku dengan seorang temanku; ada sedikit yang kuubah, kuhilangkan, kutambah; namun, intinya seperti dialog di atas)

johnterro, intikalis-kiri

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.