Feeds:
Posts
Comments

Intikali vs Demokrasi

Huuh … Intikali vs Demokrasi. Apa yang mau diambil dari pembahasan ini. Tentu ada. Simak penjelasannya setelah ini.

Di Indonesia, demokrasi adalah dewa bagi para rakyatnya. Hum … tapi ga semua rakyatnya. Ahahah … kug bisa? Ya bisa aja. Buktinya masih banyak gerakan antidemokrasi di Indonesia. Contoh konkretnya, intikali itu antidemokrasi. Apa buktinya intikali itu antidemokrasi? Buktinya adalah kata-kata ini, “Intikali itu aku, jika intikali itu aku, maka intikali itu kamu”. Dari kalimat di sana terdapat sebuah absolutisasi sebuah kepemilikan atas intikali itu sendiri. Lantas bagaimana pandangan intikali terhadap eksistensi demokrasi, dan sebaliknya, bagaimana pandangan demokrasi terhadap eksistensi intikali? Mari kita bahas di sini.

Demokrasi Memandang Intikali

Demokrasi memandang intikali adalah sebuah wujud dari eksistensi demokrasi itu sendiri karena setiap insan berhak mengeluarkan pendapatnya. Bukankah sifat demokrasi seperti itu? Maka, karena itu, wahai penganut demokrasi … Tiada berhak dirimu untuk menghujat eksistensi intikali, karena ini bagian dari dirimu.

Intikali Memandang Demokrasi

Dalam dunia intikali, tak pernah terpikirkan akan demokrasi yang eksis di dalamnya. Intikali itu  antidemokrasi. Mengapa antidemokrasi? Karena intikali itu aku. Maka secara absolut, aku berhak atas keintikalianku sendiri tanpa interferensi dari pihak luar ataupun interferensi kaum mayoritas (suara terbanyak). Intikali itu memandang demokrasi hanya sebatas alat untuk menghancurkan dunia ini. Bayangkan jika semua (banyak) orang yang tiada ilmu padanya turut menyusun kaidah-kaidah dasar intikali? Bayangkanlah !!!

Inilah kenyataan dalam dunia intikali. Seakan-akan pernyataan ini tak adil. Di satu pihak, demokrasi amat menghormati intikali. Sedangkan di lain pihak, intikali malah menafikan demokrasi. Namun, inilah intikali … Karena intikali itu aku, maka apa hakmu!

- johnterro -

Apa itu intikali? Pertanyaan ini tak ‘kan kujawab sekarang. Telusurilah tulisanku ini hingga kau ‘kan menemukan apa itu intikali, dan untuk apa intikali itu ada.

Pendekatan Etimologi

Banyak hal yang belum kau ketahui tentang intikali. Bahkan, sesuatu yang nyata pun kau tak mengetahui dari intikali. Baiklah. Jika kita tinjau dari segi etimologi, intikali berasal dari bahasa Turki, yang artinya “peralihan”. Namun, perlu kau ketahui, intikali itu memang berasal dari bahasa Turki, namun bahasa Turki itu pun sendiri menyerapnya dari bahasa Arab, “intaqola – yantaqilu – intiqool” yang artinya “memindahkan – perpindahan”. Beberapa orang lainnya melakukan pendekatan dengan mengatakan bahwa intikali itu “perubahan”. Secara terminologi, intikali memiliki banyak penggunaan yang terkadang membuat bingung.

Intikali Antidefinitif

Intikali itu sebuah kata yang diciptakan untuk tidak didefinisikan. Dengan kata lain, intikali itu tak terdefinisi. Karena sifat intikali seperti itu, maka dikatakan bahwa intikali itu antidefintif.

Intikali Hanya Dapat Dirasakan

Bagaimana untuk tahu bahwa itu intikali atau tidak? Tentu saja, intikali itu dapat diketahui dengan merasakannya. Intikali itu hanya dapat dirasakan. Seperti halnya “rasa manis”, yang kita bisa merasakannya dengan lidah kita, namun tak satupun dari kita dapat mendefinisikan bagaimana rasa manis itu. Juga terjadi pada “cinta”. Seringkali kita mendengar “aku jatuh cinta”, namun kita tak dapat mendefinisikan bagaimana cinta itu. Yang kita bisa hanyalah merasakannya saja.

Definisi Hanya Membatasi

Mengapa intikali itu tak terdefinisi? Tentu saja, seperti yang khalayak umum ketahui tentang eksistensi definisi adalah memberikan batas-batas apa yang dibahas. Jika intikali itu terdefinisi, maka -secara tak langsung- intikali itu akan dibatasi. Sedangkan intikali itu tak terdefinisi.

Makna Sempurna

Pernahkah kita berpikir tentang kata “sempurna”? Apa syarat dikatakan sesuatu itu sempurna? Dikatakan sempurna jika tak ada penambahan maupun pengurangan. Mengapa harus dikatakan “sempurna itu jika tak ada penambahan maupun pengurangan”? Bayangkan saja sesuatu hal yang selalu mengalami penambahan ataupun pengurangan. Maka hal itu dikatakan tak sempurna. Jika sempurna, mengapa masih ada penambahan ataupun pengurangan?

Kesempurnaan Intikali

Lantas apa hubungan antara intikali, definisi, dan sempurna? Tentu saja ada. Intikali itu tak terdefinisi dan lantaran tak terdefinisinya itu, intikali menjadi sempurna pemaknaannya. Coba saja bayangkan jika ada yang mengatakan “intikali adalah begini dan begitu”. Maka -secara tak langsung- ia mengatakan “jika tak begini dan begitu, maka bukanlah intikali”. Dan perbuatan seperti itu tak lain hanyalah akan merusak kesempurnaan pemaknaan intikali.

Mendeteksi Intikali

Bagaimana cara kita mengetahui itu intikali atau bukan? Tentu saja itu hal yang mudah. Terkadang, kita merasakan intikali, namun kita tak tahu bahwa yang kita rasakan itu adalah intikali. Sehingga kita menyikapinya dengan salah. Ataupun sebaliknya, terkadang kita merasakan sesuatu yang bukan intikali, namun sebenarnya bukan. Penyikapan yang salah akan memberikan hasil yang berbeda ketika kita benar-benar tahu bagaimana mendeteksi intikali. Cara yang paling mudah untuk mengetahui bahwa itu intikali atau bukan adalah dengan memperhatikan “gerak hati”. Jika kau merasa hatimu tergerak, maka kemungkinan itulah intikali. Namun tak menjamin 100% intikali. Cara lainnya, ketika kau merasakan sebuah kesedihan dan kegembiraan bercampur aduk hingga kau tak dapat membedakan sedang apa kau sekarang, sedih ataukah bahagia. Namun, itupun juga tak menjamin 100% benar bahwa kau sedang berintikali.

Parameter Intikalis

Intikali. Ya. Kita masih membahas intikali. Seseorang yang berintikali disebut intikalis. Lantas apa parameter dikatakan intikalis? Dikatakan seorang intikalis jika dia pernah berintikali setidaknya selama 13 detik. Cukup sebentar. Namun, asal kau tahu, boleh jadi kau yakin bahwa dirimu adalah seorang intikalis, namun sebenarnya kau berintikali kurang dari 13 detik atau tak pernah berintikali sama sekali walau seper sejuta detik. Parah.

Adalah = Definisi

Dalam intikali sering termaktub dengan kata “itu” bukan kata “adalah”. Tentu hal ini ada alasan yang mendasarinya. Kata “adalah” itu bersifat definitif, yang akan membatasi makna intikali. Sedangkan kata “itu” hanya sebuah kata “tunjuk” yang tak memberikan definisi, hanya memberikan petunjuk-petunjuk untuk melakukan pendekatan dengan makna intikali. Maka lazim Anda ketahui “intikali itu aku” bukan “intikali adalah aku”.

Intikali Itu Aku

Sering sekali kalimat “intikali itu aku, jika intikali itu aku, maka intikali itu kamu” muncul dipermukaan. Apakah maksud dari kalimat itu? Ada beberapa pemaknaan yang semua itu tergantung dari situasinya.

Pertama, “intikali itu aku” bermakna intikali itu diriku, intikali itu ada di dalam diriku, atau intikali itu milikku. “Jika intikali itu aku, maka intikali itu kamu”, pemaknaan kata ini amat rancu dan tak bisa direlasikan dengan kalimat “intikali itu aku”. Karena, kalimat “jika intikali itu aku, maka intikali itu kamu” di sini terdapat penggabungan suatu bagian atau keseluruhan bagian antara aku dan kamu. Boleh jadi, aku dan kamu sebenarnya atau pada hakikatnya masih satu. Mengapa pada awal tadi aku mengatakan rancu? Karena sulit sekali diterima oleh akal, “aku” yang dia sebagai “subjek orang pertama” dan “kamu” sebagai “subjek orang kedua” yang faktanya keduanya saling berhadapan dan tidak bersatu menjadi satu. Namun, itulah intikali. Intikali itu sesuatu yang tak dapat diraba oleh akal, karena akal itu terbatas.

Kedua, “intikali itu aku, jika intikali itu aku, maka intikali itu kamu” mempunyai makna, yang mana sebenarnya memang ada dua suatu yang keduanya sama-sama bernama atau setidaknya mempunyai sifat intikali, tanpa memaksanya dalam satu kesatuan. Boleh jadi dua hal yang memiliki nama sama namun hakikatnya berbeda.

Ketiga, “intikali itu aku” bermakna intikali itu aku dan semua apa-apa yang ada dalam diriku itulah intikali. Intikali menjadi benar-benar milikku secara mutlak. “Jika intikali itu aku, maka intikali itu kamu” bermakna jika intikali itu milikku secara mutlak, maka secara tidak langsung aku berhak mengatakan bahwa intikali itu ada di dalam dirimu, bahkan dirimu seutuhnya adalah intikali. Inilah pemaknaan yang paling ekstrem.

Landasan Intikali

Awalnya, landasan intikali adalah 13xy. Namun, waktu telah mengubahnya. Kini, landasan intikali bukanlah 13xy. Kini landasan intikali adalah “selonisitas dan simplisitas”, yang mana menjunjung tinggi nilai selonistik dan kesederhanaan dalam banyak hal (bukan dalam semua hal).

Selonisitas dan Simplisitas

Selonisitas. Kata ini muncul pada awal intikali ada. Berakar kata dari “selonis” yang dimaknai dengan sesuatu yang menempel pada intikali yang bisa membuatmu berintikali karenanya. Mudahnya, terkadang kami membuat pemaknaan selonis lebih sederhana dengan mengatakan sesuatu yang keren dengan kata selonis. Sedangkan simplisitas atau mudahnya kita sebut dengan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam berpikir, kesederhanaan dalam berbuat. Contoh konkretnya adalah intikali kali itu sederhana, tak perlu didefinisikan. Karena ketika kita mendfinisikan intikali, maka kita akan begitu sibuk dengan mencari definisi yang sesuai dengan intikali. Pendefinisian itu akan menghasilkan kerumitan-kerumitan karena banyaknya kriteria yang harus dipenuhi.

13xy

Sungguh sebenarnya ini telah out of date untuk membahas 13xy yang telah tak menjadi landasan intikali. Namun, tak apalah dibahas hanya agar tak hilang nilai histori dari intikali. 13xy dulunya adalah inisial yang dibuat oleh John Terro untuk PC di kamarnya. Namun, berlanjut pada sesuatu yang lebih gila lagi. Intikali lahir pun berawal dari ditemukannya 13xy. Secara runtutan, 13xy lebih dulu dari intikali. Lantas karena itulah intikali berlandaskan 13xy. 13xy sendiri mempunyai beberapa penafsiran yang cukup mencengangkan.

Pertama, 13xy itu berasal dari “13” yang dimaknai dengan angka sial dan “xy” yang menunjukkan inisial kromosom laki-laki pada pelajaran genetika. Setelah didapatkan itu semua, muncullah kesimpulan konyol, yaitu 13xy itu tak lain adalah “laki-laki sial” atau malah ada yang menyimpulkan “laki-laki sialan”. Parah.

Kedua, 13xy itu berasal dari “13” yang menyerupai huruf “B” mewakili kata “Baik” dan “xy” itu “laki-laki”. Simpulannya, 13xy itu “laki-laki baik”.

Ketiga, 13xy itu nama seorang perempuan. Benarkah? 13xy: “13” yang mewakili kata “le” dan “xy” yang tetap, maka dapat disimpulkan bahwa 13xy itu “lexy”. Namun, siapakah “lexy”? Cari tahu di Google dengan keyword “intikali lexy”!

Tujuan Intikali

Ada beberapa tujuan intikali yang tujuan itu terus melebar tahun ke tahun. Adapun beberapa tujuan dijelaskan setelah ini.

Tahun 2007

Pada tahun 2007, intikali belum muncul dengan format yang resmi. Intikali muncul dalam bentuk meta, berupa ditemukannya kata 13xy dan jindego. Kata “jindego” ini berasal dari Weyeze Dalwerig (cari tahu di Google). WDalwerig adalah bahasa terbalik yang diciptakan oleh beberapa orang yang nantinya bakal terlibat dalam sepak terjang intikali di masa mendatang.

Tahun 2008

Tepatnya Februari 2008, intikali lahir. Sudah dikenal kata “intikali” di telinga para intikalis dan orang yang berada di sekitarnya. Tujuan intikali saat itu adalah sebagai subtitusi rasa cinta gila yang tak tertahankan dari beberapa intikalis. Untuk lebih jelasnya cari di Google dengan keyword “inilah sebenarnya intikali”.

Tahun 2009 – Sekarang

Pada tahun 2009, tujuan intikali mulai bergeser pada menyebarluaskan intikali di jagad dunia maya. Yang nantinya ini akan digunakan untuk tujuan puncak intikali.

Tahun 2015

Pada tahun ini diharapkan teori intikali telah rampung.

Tahun 20xx

Intikali mencapai puncaknya. Apa tujuan puncaknya? Masih dirahasiakan. Hehe …

Pencapaian Intikali

Ada beberapa pencapaian yang telah dicapai intikali. Adapun beberapa pencapaian itu adalah:

1. Telah dibuat blog yang bernafaskan intikali, guna memfasilitasi untuk menyebarluaskan intikali.

2. Mulai dikenalkan intikali ke khalayak umum.

3. Mulai dibuat relasi-relasi yang mendukung teori intikali.

4. Dan beberapa pencapaian yang masih dirahasiakan untuk dicapai.

download .pdf -nya di sini.

Bersatu dalam Dua

cerita sebelumnya

Saat itu, Nina duduk sendiri dengan laptop di depannya. Dia duduk di bawah rindangnya pohon. Sambil menikmati koneksi Wi-Fi di daerah itu, dalam otaknya terdapat secuil pertanyaan yang melayang. “Dua hal bersatu itu sangat mungkin, namun bagaimana bila sesuatu yang satu bersatu dalam dua. Mungkinkah itu bisa terjadi?”

Sambil menikmati air mineral yang dibelinya di dekat tempat itu, ia masih memikirkan hal itu. Hampir saja otaknya membludak. Otaknya kini panas dan bertambah panas. Walau itu pertanyaan yang remeh dan tak seharusnya dipikirkan. Untuk apa dipikirkan? Namun, entah mengapa kata-kata itu tiba-tiba muncul.

Nina mulai meraba otaknya. Ia bayangkan suatu hal yang keadaannya masih diragukan. Anggap saja hal itu adalah ‘anu’. Anu itu sesuatu yang satu. Sesuatu yang kemungkinan tak terpisahkan dan tak dapat dibelah. Hanyalah sebuah yang satu, tak bisa menjadi dua, tiga, atau lebih dari itu. Mungkinkah ‘anu’ itu bisa bersatu dalam dua? Sedangkan kata ‘bersatu’ itu sudah menunjukkan suatu kesatuan. Namun? Kata ‘bersatu’ itu kata yang mengindikasikan sesuatu yang tidak satu kemudian disatukan ataupun menyatu dengan sendirinya. Dan pada hakikatnya sesuatu yang ‘bersatu’ asalnya bukan satu.

Nina mulai mendapatkan petunjuk. Jika benar ‘bersatu’ itu menjadi satu, maka mungkinlah sesuatu yang tidak satu itu bersatu dalam dua. Analoginya, jika kita mempunyai sepuluh anu, maka ‘bersatu dalam dua’ itu menjadikan setiap lima dari sepuluh anu bersatu hingga menjadi dua bagian. Dan inilah yang dikatakan ‘bersatu dalam dua’. Namun, apakah ini yang dimaksud dengan ‘bersatu dalam dua’?

Otak Nina semakin panas. Jika seperti itu, maka mengapa ‘bersatu dalam dua’ dan mengapa tidak ‘bersatu dalam satu’? Bukankah jika bersatu itu pasti menjadi satu? Uh … Apa yang dimaksud oleh ’si Boy’?(lihat cerita sebelumnya, Kaba Nina Kaba Sahaya Cinta) Mengapa dia mengatakan padaku, ‘Mungkinkah kita bersatu dalam dua?’, apa maksudnya?

Kemudian Nina search di Internet, mencari-cari, mungkin saja ada. Namun, lama sekali ia cari, tak juga menemukannya. ‘Boy, kau terlalu aneh bagiku’. Nina lelah dengan maksudnya. Dia memutuskan untuk menanyakannya pada si Boy, jika bertemu dengannya.

***

Nina terdiam dalam senyap malam. Tak sepatahh kata pun keluar dari lidahnya kecuali kata ‘Boy, boy, boy’ dan selalu seperti itu hingga dia tertidur. Malam itu menyelimuti Nina dengan mimpinya.

“Hai, Nina.”
“Boy?”
“Ya, ini aku, Boy, Nina.”
“Kau? Apa benar kau?”
“Ya, ini aku.”
“Hey, Boy. Mengapa tangan kirimu terbalut perban?”
“Um … gapapa kug, cuma kecelakaan kecil saja.”
“Kecelakaan kecil?”
“Ya … Aku tak bisa mengendalikan tanganku, aku memaksanya melakukan sesuatu yang tak ingin kulakukan.”
“Apa itu?”
“Aku memaksanya bersatu dalam dua.”
“Bersatu dalam dua?”

Nina terbangun. Mimpi itu lagi! Mengapa Boy selalu datang dalam mimpiku dan seakan dia berkomunikasi denganku lewat mimpiku. Apa maunya? Ah … uh, sadarlah Nina! Apa yang kuucap, bukankah aku saja yang mengalami ini. Sedangkan Boy, tak mungkin ia mimpi seperti ini.

***

“Hey, Boy!”
Boy menoleh ke arah suara itu berasal.
“Ya … Nina, ada apa?”
“Um … a-a-anu …”
“Anu apa, Nin?”
“Um … nanti abis kuliah … kamu ada waktu ga?”
“Aku? Waktu? Ya … nanti jam satu siang aku kosong.”
“Makasi ya, Boy, aku tunggu di tempat biasanya.”
“Ya, aku ‘kan datang.”

— jam satu siang

Boy naik ke lantai empat, tempat biasa mereka ketemu. Boy sudah melihat Nina duduk menantinya di ufuk sana.

“Nina?”
“Ya.”
“Maaf, lama menungguku ya?”
“Ga kug, baru beberapa menit aku sampai ke sini.”
“Um … gitu ya”, “Kalau boleh tahu, apa yang bisa kubantu untuk Nina?”
“Um … a-a-anu … akhir-akhir ini aku dibuat lelah dengan kata-kata ‘bersatu dalam dua’ yang sering muncul dalam otakku.”
“Bersatu dalam dua?”
“Ya, tiga kata itu.”
“Ada apa dengan kata itu?”, “Bukan kata-kata yang aneh.”
“Ya, sih, tapi … apa sih maksud dari kata itu?”
“Maksud?” (Boy tiba-tiba tersenyum)
“Um …” (Nina terkejut dengan senyuman Boy)
“Kalimat ‘bersatu dalam dua’ itu seperti keadaan kita ini.”
“Keadaan kita?” (Nina mengerutkan dahinya)
“Ya, keadaan kita.”
“Maksudnya?”
“Aku tahu … kau sebenarnya … ” (Boy menebak)
“Um … ” (tiba-tiba Nina tersipu malu)
“Apa aku harus melanjutkan kata-kataku?”
“Ya … lanjutkan.” (Nina mengangguk)
“Apa yang kau rasakan dan yang kurasakan, tak jauh beda.”
“Tak jauh beda?”, “Apa kau juga … ?” (Nina menatap curiga)
“Yep, begitulah.” (suara lirih itu keluar dari lisan Boy)

Keduanya diam. Suasana tiba-tiba senyap. Keduanya hanya saling memandang. Sedangkan panasnya matahari saat itu seakan menambah panas keadaan saja.

“Jika kau merasakan hal itu, mengapa kau tak melakukan seharusnya yang kau lakukan?” (Nina mendesaknya)
“A-a-aku … aku masih memikirkannya matang-matang.” (Boy mencoba mengelak)
“Mengapa kau tak melakukannya sekarang?”, “Mumpung aku di sini dan masih di sini.” (Nina sedikit memberikan harapan dan sekaligus tekanan)
“Baiklah …” (Mata Boy mulai yakin)
“Ayo katakan.” (Nina menghadap wajah Boy dan menunggu)
“Um … a-a-aku … aku su-su-su-suka … ka-ka-ka-kamu, Nina.” (Boy gugup, ini amat tak terencana)
“Apa? Apa yang kau katakan? Aku tak mendengarnya?” (Nina mempermainkan Boy yang ragu-ragu dalam pengucapannya)
“A-a-aku su-su-suka ka-kamu, Nina … Aku suka kamu, Nina.”
“Suka?” (Nina dengan pandangan remehnya) “Hanya suka?”
“Ya, suka.”
“Lantas … apa yang kau mau dariku jika kau suka padaku?”
“Karena itu … aku masih bingung mau apa.”
“Bingung?” (dengan nada kecewa, Nina langsung meninggalkan Boy sendiri di sana)

Gila. Tragedi apa ini. Ga keren sekali. Boy tersadar … ia langsung mengejar Nina. Ia dapatkan tangan kiri Nina. Nina menoleh ke arahnya, dengan wajah sedikit marah. Boy dengan wajah bersalahnya berkata, “Maafkan aku, Nina.”

“Baiklah, aku akan memaafkan kamu jika kamu mengulangi apa yang kau katakan tadi di atas sana.”
“Baiklah, aku akan mengulanginya”, “Nina, aku suka padamu, aku ci-ci-cinta padamu”, “Aku ingin kau juga mencintaiku.” (pinta Boy)
“Maafkan aku, Boy, aku ga bisa menerima cintamu.”
“Mengapa? Apa yang menghalangimu untuk mencintaiku? Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?”
“Yang menghalangiku adalah … kau … tadi di atas … hanya mengatakan ‘aku suka padamu’, ga ada kalimat ‘aku cinta’.” (Nina langsung pergi dari hadapan Boy)
“Huh?” (Boy merasa aneh dengan Nina)

bersambung ke bagian 3

download .pdf -nya, klik di sini

Older Posts »